Ayat Bacaan: Kejadian 1:26-30
“Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita...” (Kejadian 1: 26)
Fenomena yang cukup menarik belakangan ini adalah adanya dua kubu jenis orang. Di satu sisi, ada orang-orang yang merasa dirinya hebat, luar biasa, sehingga merendahkan orang lain. Namun di sisi lainnya, ada orang-orang yang merasa dirinya rendah dan tidak berharga. Bila diteliti, sebenarnya hal ini muncul karena tidak adanya pemahaman yang benar tentang citra diri kita. Bagian yang kita baca hari ini dengan jelas memberitahukan kita bahwa citra diri kita adalah sebagai “gambar dan rupa Allah.” Kita sering mendengar istilah ini namun mungkin seringkali kurang memahami maknanya. Untuk mengerti perihal ini, kita harus kembali pada zaman itu.
Pada waktu itu, raja-raja di zaman kuno suka membuat patung-patung diri mereka dan meletakkannya di tempat-tempat yang strategis di daerah kekuasaannya, misalnya di pasar atau di tengah kota. Tujuannya, untuk menunjukkan kepada orang-orang yang ada di sana, siapa yang berkuasa di daerah itu. Patung-patung itu menjadi simbol kekuasaan dari raja-raja tersebut dan patung-patung itu lazim disebut sebagai “gambar” raja atau “rupa” raja. Sehingga, hari ini ketika kita disebut sebagai “gambar dan rupa Allah,” yang memiliki arti, kita menjadi simbol kekuasaan Allah, wakil Allah di bumi. Sebagaimana patung-patung tadi menyimbolkan raja-raja, maka kita menyimbolkan Allah. Kita bukanlah Allah sebagaimana dikatakan oleh gerakan Zaman Baru, tapi melalui kita, kekuasaan Allah nampak di bumi.
Kebenaran ini membawakan 2 hal penting: (1) Kita lebih menghargai orang lain siapapun dia karena mereka juga merupakan gambar dan rupa Allah. Bahkan sekalipun mereka adalah gambar dan rupa Allah yang rusak karena dosa dan tidak dipulihkan di dalam Kristus, kita juga tetap harus menghargai mereka. Bila Allah masih menghargai mereka, mengapa kita tidak? (2) Kita lebih menghargai diri kita dan maju untuk Tuhan. Hari ini, ketika kita mengalami tekanan yang berat, dibuang dan dibenci, ingatlah bahwa yang terpenting bukan bagaimana manusia memandang kita, tapi bagaimana Allah melihat kita.
STUDI PRIBADI: Apa makna ”gambar dan rupa Allah” bagi kita? Bagaimana seharusnya kita memandang diri kita?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah dan bersyukurlah karena kita diciptakan Tuhan menurut gambar dan rupa-Nya, sehingga kita diberikan kemampuan untuk bisa memerankan gambar itu sesuai menurut kehendak-Nya.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index