Ayat Bacaan: Matius 5:3
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Matius 5:3)
Kotbah di Bukit diawali dengan ucapan bahagia, yang secara kesatuan merupakan ciri-ciri atau karakter Kristen sejati. Bagian ini bukan berbicara bagaimana seorang Kristen mengalami kebahagiaan jika ia melakukan hal-hal tersebut. Bukan! Orang Kristen adalah orang yang berbahagia. Tapi, apa yang menyebabkannya mampu menghayati kebahagiaan seperti itu? Sebab kebahagiaan sejati ini berkaitan dengan karakter yang muncul di dalam. Delapan ucapan bahagia ini melukiskan karakter Kristen yang sejati, jati diri orang Kristen yang paling otentik. Memilikinya, kita akan menjadi garam dan terang dunia. Tapi, tanpanya, kita tidak punya kesaksian hidup yg berkuasa membawa berkat bagi orang lain, bagi dunia.
Seluruh fondasi kehidupan iman orang percaya, diawali dengan kesadaran akan dirinya sebagai orang yang miskin di hadapan Allah. Falsafah dunia mengajarkan kita, “Carilah kekayaan sebanyak-banyaknya supaya dengan itu engkau dapat memiliki dunia.” Ini adalah falsafah hidup yang berpusatkan pada diri, yang bertujuan untuk menyenangkan/memuaskan “EGO.” Ucapan bahagia yang pertama berkenaan dengan masalah ini. Di tengah-tengah perlombaan manusia untuk memuaskan ego untuk menjadi kaya, Tuhan berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Tuhan, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”
Menjadi miskin di hadapan Allah, adalah hilangnya rasa kebanggaan diri, rasa keyakinan diri dan rasa ketergantungan pada diri secara total. Ini berarti, suatu kesadaran bahwa di hadapan Allah, tidak ada apapun yang bisa dibanggakan, tidak ada apapun yang bisa dilakukan diri sendiri, yang membuat kita layak berdiri di hadapan-Nya. Hal ini berbicara tentang suatu kesadaran, ketika seseorang berdiri di hadapan Allah, melihat dan menemukan bahwa dirinya tidak ada apa-apanya sama sekali! Inilah miskin di hadapan Allah, sama dengan esensi dari penyangkalan diri sesungguhnya. Kalau EGO sudah diturunkan dari takhta nomer 1, kita lebih mampu memahami betapa besar anugerahNya. Kita adalah orang yang miskin, sekaligus berbahagia karena kita adalah anak-anak-Nya, yang akan mewarisi sorga.
STUDI PRIBADI: Apakah makna ajaran Tuhan Yesus, bahwa “yang miskin yang empunya kerajaan Allah?” Mengapa Tuhan mengajarkan hal ini sebagai yang pertama?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi setiap orang Kristen agar melalui pertongan Tuhan, mereka mampu mengalahkan keangkuhan mereka, sehingga mereka tidak lagi mau menyombongkan diri di hadapan Allah, maupun manusia.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index