Ayat Bacaan: Amsal 30:32-33
“Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah tangan pada mulut!
Sebab... kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul.” (Amsal 30:32-33)
Bacaan Alkitab pada hari ini hendak mengajarkan pada setiap orang percaya pentingnya kerendahan hati dan juga hubungannya dalam membangun relasi yang harmonis dengan orang lain. Suatu kesombongan, baik itu sudah terwujud dalam tindakan atau kata-kata, ataupun sebatas pada pikiran saja, perlu diwaspadai sedini mungkin. Perwujudan yang paling nyata dari kesombongan adalah dalam bentuk kata-kata yang arogan. Karena itu, penulis kitab Amsal mendesak setiap orang percaya untuk segera menutup mulut, dengan maksud tidak ada kata-kata arogan dan kesombongan yang dilontarkan. Penguasaan lidah patut mendapatkan perhatian penting dari orang percaya yang mau hidup rendah hati. Namun demikian, ini tidak berarti memanipulasi sikap kerendah hatian dengan berpura-pura rendah hati, atau mengucapkan kata-kata yang ramah dan tidak meninggikan diri.
Di ayat 33 disebutkan, “dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul.” Frase ini tidak berarti bahwa pertengkaran dan kemarahan perlu dilontarkan begitu saja dan tidak perlu dikendalikan. Tetapi, hal ini berkaitan dengan ayat sebelumnya, yaitu kemarahan yang terjadi sebagai akibat dari kesombongan yang terus dikoar-koarkan oleh individu tertentu. Adalah suatu hal yang menarik bahwa kesombongan ini ternyata dikaitkan dengan timbulnya kekacauan dan pertengkaran antara individu. Kadang, dibutuhkan pengontrolan diri yang keras untuk tidak melanjutkan perdebatan atau hanya berusaha mendapatkan kemenangan dalam sebuah diskusi. Firman Tuhan menyatakan bahwa Allah menghendaki orang percaya hidup dalam damai dengan orang lain (Rm. 14:19; 1Kor. 7:15).
Kesombongan yang tidak dihilangkan atau diatasi, bagaikan sebuah tombol bom, yang dapat menjadi pemicu yang memperkeruh suasana dan memutuskan rantai keharmonisan sebuah hubungan baik. Bagaimanapun, kesombongan memang tidak mendatangkan efek yang positif, baik bagi yang mengucapkan maupun bagi yang mendengar.
STUDI PRIBADI: Apakah sifat kesombongan telah mempengaruhi kehidupan orang Kristen dalam pelayanan, pekerjaan dan relasinya dengan sesama? Lalu, bagaimanakah dengan diri kita sendiri?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi setiap orang Kristen supaya mereka dapat menaklukkan sifat kesombongan tersebut sehingga tidak merusak relasi dengan sesama dan nama Allah dipermuliakan.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index