Ayat Bacaan: Lukas 17:11-19
“Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”
(Lukas 17:18)
Ketika Tuhan Yesus dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Ia bertemu dengan 10 orang sakit kusta. Mereka meminta tolong kepada-Nya. Seperti biasanya, Ia tidak pernah menolak untuk menyembuhkan mereka. Mereka semua menjadi tahir. Namun ada 2 hal yang ironis terjadi dalam kisah ini.
Pertama, dari sepuluh orang yang disembuhkan, hanya 1 orang saja yang kembali mengucap syukur. Orang ini adalah bangsa Samaria. Suatu bangsa yang dianggap bangsa buangan dan diremehkan bangsa Israel. Tetapi, justru orang ini yang kembali untuk mengucap syukur kepada Allah.
Kedua, kesembilan orang lainnya yang merasa mengenal Allah justru tidak kembali untuk mengucap syukur. Apa yang terjadi dengan 9 orang ini bisa terjadi kepada kita. Kita merasa sudah mengenal Allah, tapi kita jutsru jarang atau bahkan tidak pernah mengucap syukur.
Ada beberapa hal yang membuat kita jarang bersyukur. Kemungkinan pertama adalah karena kita merasa segala sesuatu adalah hak kita. Inilah yang mungkin dipikirkan oleh 9 orang tadi. Mereka merasa memiliki hak untuk disembuhkan sehingga mereka tidak perlu datang mengucap syukur. Bagaimana dengan kita? Apakah kita merasa apa yang kita miliki adalah hak kita? Bila kita berpikir seperti ini, maka sepanjang hidup kita tidak akan pernah bersyukur. Sadarlah, apa yang kita miliki adalah anugerah semata.
Kemungkinan kedua yang membuat kita sulit mengucap syukur ialah rasa tidak puas. Hidup dalam zaman yang serba konsumeris dan hedonis ini membuat kita juga sulit untuk mengucap syukur dengan apa yang kita miliki. Karena tidak puas, maka Ahab merampas kebun anggur nabot. Seorang penulis yang bernama Jeremiah Burrough pernah menuliskan kalimat yang indah “christian happines comes not from getting more, but from wanting less” (kebahagiaan orang Kristen bukanlah datang karena mendapatkan lebih tapi dari perasaan cukup/puas). Berhati-hatilah dengan keinginan-keinginan kita karena dapat membuat kita sulit untuk mengucap syukur atas berkat Tuhan.
STUDI PRIBADI: Mengapa kita harus mengucap syukur dalam segala hal? Apa makna ucapan syukur yang kita lakukan di hadapan Allah?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi jemaat agar mereka menyadari bahwa segala berkat yang mereka miliki adalah anugerah Allah semata, sehingga mereka dapat selalu bersyukur dalam hidup ini dan memuliakan Allah.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index