Sabtu, 23 Januari 2010
Salah Tapi Benar

Ayat Bacaan: Keluaran 2:11-12
“Musa bersedia tinggal di rumah itu, lalu diberikan Rehuellah Zipora, anaknya, kepada Musa. Perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, maka Musa menamainya Gersom...” (Keluaran 2:21-22)

Kita sudah belajar bagaimana kegagalan Musa; ia memiliki maksud yang baik, namun cara aktualisasinya salah. Lalu, apakah dengan kegagalan tersebut, semua berakhir? Ternyata tidak! Kegagalan Musa hanyalah sebuah awal perjalanan besar Musa. Dalam kegagalan tersebut, ia justru menemukan tiga berkat: (1) Ia bisa menjadi berguna bagi orang lain. Ketika ia lari ke tanah Midian, ia bertemu dengan tujuh anak perempuan imam di Midian yang diganggu oleh gembala-gembala. Dalam momen itulah Musa datang dan menolong para gadis tersebut (ay. 16-18). (2) Dalam pelariannya itu, ia justru bertemu dengan jodohnya, bahkan memiliki anak (ay. 21-22). Penting diingat, dalam konsep Perjanjian Lama, anak merupakan bagian tak terpisahkan dari berkat Tuhan. (3) Melalui pelariannya tersebut, ia sedang dipersiapkan untuk sebuah tugas yang besar, yakni memimpin bangsa Israel keluar dari penjajahan Mesir dan membawa bangsa tersebut ke tanah Perjanjian. Ternyata, apa yang dilihat Musa sebagai suatu akhir, sebenarnya hanya merupakan sebuah jalan pembuka kepada berkat yang lebih besar.

Pengalaman Musa ini seharusnya dapat membuat kita tegar dalam menghadapi kegagalan-kegagalan hidup. Sama seperti Allah yang tetap berkarya mendatangkan kebaikan dalam kegagalan Musa, maka Ia pun juga berkarya dalam hidup kita. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya; kegagalan bukanlah kiamat. Kegagalan kita, bisa jadi, sama seperti Musa, merupakan jalan pembuka kepada sebuah berkat yang sejati. Namun penting diingat, bahwa kegagalan Musa bukanlah kegagalan sikap hati. Ia bermaksud tulus tapi aplikasinya salah. Bila kegagalan Anda mencakup, baik sikap hati maupun tindakan, maka Anda harus lebih dulu mengubah sikap hati sebelum bisa melihat kebaikan Tuhan.

Allah ialah pelukis hidup kita. Ketika Ia membuat coretan yang “buruk” dalam hidup kita, percayalah bahwa sebenarnya Ia sedang mempersiapkan lukisan yang indah dalam hidup kita. Asalkan sikap hati kita tulus, kelak kita pasti bisa melihat karya-Nya yang menakjubkan (Rm. 8:28).

STUDI PRIBADI: Mengapa kegagalan kita bukan akhir dari segalanya? Mana yang sering gagal dalam hidup kita; sikap hati atau cara kita bertindak?

DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi pergumulan saudara-saudara kita yang saat ini mengalami kegagalan dalam ketulusan mereka, agar mereka boleh tabah, dan kiranya Tuhan segera menyatakan keindahan rencana-Nya.


Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2010 GKA Gloria
 

PERSPEKTIF hari ini
Hubungi Kami