Jumat, 22 Januari 2010
Benar Tapi Salah

Ayat Bacaan: Keluaran 2:11-22
“Dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. Ia menoleh ke sana sini, ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir.” (Kel. 2:11b-12)

Nas yang kita baca merupakan sebuah episode awal kisah perjalanan hidup Musa, yakni bagaimana ia dipersiapkan Allah untuk menjalankan tugas besar. Alur kisah ini bisa dibagi menjadi dua bagian utama, paruhan pertama berkisah tentang kegagalan Musa dan sisanya berbicara tentang penyertaan Allah dalam kegagalan Musa tersebut. Dalam bagian awal ini dikisahkan bagaimana Musa melihat seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu (ay. 11b). Sebagai seorang nasionalis, ia tentu tidak rela melihat kawan sebangsanya dianiaya bangsa lain. Ini terlihat dari sejak awal kisah ini. Seorang teolog mengatakan bahwa ketika Musa keluar untuk melihat kerja paksa orang Isarel, ia melihatnya dengan sebuah simpati yang dalam (ay. 11a). Karena nasionalismenya, timbullah sikap patriotiknya.

Sampai sejauh ini, Musa belum menjadi seorang yang gagal. Ia mempunyai maksud yang baik. Namun kegagalan itu terjadi ketika ia mengambil langkah yang salah untuk maksud yang benar itu. Ketika ia membunuh orang Mesir itu, di situlah kegagalannya. Ini diperjelas oleh tindakan Musa sendiri yang “menoleh ke sana-sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir” (ay. 12). Beberapa ahli menganggap bahwa “pembunuhan Musa” yang Musa lakukan ini bukanlah sebuah kesalahan. Misalnya John Calvin, sang reformator, ia menganggap bahwa Musa digerakkan oleh Roh Allah untuk membunuh orang Mesir tersebut. Ia merujuk pada Ibrani 11:24-26 sebagai buktinya. Namun ayat yang dirujuk Calvin itu sepertinya lebih berbicara tentang motif Musa yang memang positif, dan bukan untuk membenarkan tindakan Musa.

Sebuah pelajaran penting yang bisa kita lihat adalah bahwa sebuah maksud yang baik, namun bila disampaikan dengan cara yang salah, maka hasilnya tetap saja salah. Ini nampak dari bagaimana konsekuensi yang diterima Musa akibat perbuatannya: ditolak bangsanya (ay. 14) dan dikejar untuk dibunuh (ay. 15). Bagaimana dengan kita?

STUDI PRIBADI: Pikirkan apa wujud konkrit bahwa Anda menghidupi kebenaran ini dalam lingkungan studi, kerja maupun pelayan Anda?

DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi jemaat, aktivis dan pemimpin gereja agar mereka bertindak dengan motivasi, cara dan tujuan yang benar, agar hasil kerja apapun yang mereka lakukan dapat memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama.


Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2010 GKA Gloria
 

PERSPEKTIF hari ini
Hubungi Kami