Minggu, 29 November 2009
Buah Roh

Ayat Bacaan: Galatia 5:16-26
“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Galatia 5:22-23a)

Ada kalanya orang Kristen berpikir, bahwa buah Roh dapat dicapai dengan usahanya sendiri, sehingga ia melakukan pendisiplinan diri yang ketat untuk menghasilkan sifat-sifat baik, seperti kemurahan, kesetiaan, atau penguasaan diri. Sedangkan di sisi lain, ada pula anggapan bahwa dirinya tidak perlu berbuat apa-apa untuk mendisiplin diri, karena semua sifat-sifat tersebut hasil dari Roh Kudus. Inikah yang dipikirkan oleh Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia?

Bila kita memperhatikan tulisan Paulus ini, maka kita akan mengerti, bahwa kedua pandangan di atas tidaklah tepat. Pertama, Paulus bukanlah seorang “antinomian” (melawan hukum/aturan). Artinya, meskipun Paulus mengajarkan bahwa sifat-sifat rohani tersebut merupakan hasil/karya Roh Kudus, tetapi ia tidak pernah menganjurkan orang Kristen untuk “pasif” dan tidak mendisiplin diri mereka. Kedua, ia juga bukan seorang legalisisme, yang menekankan kebaikan/kebenaran sebagai hasil dari peraturan atau usaha manusia. Apa yang sebenarnya Paulus pikirkan tentang buah Roh tersebut?

Paulus mendasari pandangannya dengan suatu pernyataan bahwa keinginan Roh sangat berlawanan dengan daging. Maka, bagaimanapun manusia mendisiplin diri, tanpa keterlibatan Roh Kudus, manusia takkan dapat meghasilkan sifat-sifat rohani tersebut. Demikian sebaliknya, tanpa “mendisiplin diri” dalam menaati pimpinan Roh Kudus, maka kita tidak akan menghasilkan sifat-sifat rohani tersebut. Jika demikian, lalu, manakah yang lebih berperan dan berpengaruh dalam menciptakan sifat-sifat rohani tersebut, kita ataukah Roh Kudus? Dalam hal ini, kita perlu kembali pada pemikiran dasar Paulus, bahwa Roh Kuduslah pendorong dan pemimpin pada sifat-sifat rohani tersebut. Namun, ini bukanlah berarti bahwa kita bersifat pasif. Mengingat lemahnya keinginan kita, maka kita harus terus menundukkan keinginan daging kita kepada keinginan Roh Kudus; seperti Paulus yang selalu berkata: “beri dirimu dipimpin Roh Kudus” atau “hidup dipimpin oleh Roh” (ay. 18, 25).

STUDI PRIBADI: Kesalahan apa yang sering terjadi pada orang Kristen, sehingga hidupnya tidak menghasilkan buah Roh Kudus? Bagaimana kita menghasilkan buah Roh?

DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi setiap orang Kristen agar kita sungguh-sungguh boleh hidup dalam pimpinan Roh Kudus, sehingga setiap kita dapat menghasilkan sifat-sifat rohani yang sesuai dengan kehendak Tuhan.


Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2010 GKA Gloria
 

PERSPEKTIF hari ini
Hubungi Kami