Ayat Bacaan: 2 Tawarikh 34:1-10
“Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.” (2 Tawarikh 34:2)
Zaman ini muncul banyak motivator yang mendengungkan “menjadi pemimpin yang sukses.” Hal itu tidaklah salah, tetapi tidak lengkap. Alkitab, khususnya dalam kitab 1-2 Samuel, 1-2 Tawarikh, 1-2 Raja-raja, telah banyak memaparkan kehidupan para pemimpin dan ukuran kesuksesan, bukan dari perspektif manusia, tetapi berdasarkan perspektif Allah sendiri. Hari ini kita akan mempelajari salah seorang profil pemimpin yang sukses di mata Allah, yaitu Yosia.
Yosia adalah raja ke-16 di Kerajaan Yehuda (selatan). Kehadirannya di jajaran raja-raja Yehuda telah dinubuatkan sebelum kelahirannya (bnd. 1Raj. 13:2). Yosia menjadi raja ketika berusia 8 tahun; usia yang sangat belia. Namun, bisa dikategorikan sebagai pemimpin yang sukses di mata Allah, karena dia seorang pemimpin yang rohani. Apa yang telah dilakukan Yosia sebagai pemimpin pembaharuan rohani bagi seluruh Israel?
Pertama, pembaharuan diri. Yosia tidak meneladani ayahnya, Raja Amon, maupun kakeknya Raja Manasye, sebab mereka jahat di mata Allah. Sebaliknya, Yosia hidup seperti Daud (ay. 2). Ini berarti, Yosia benar-benar mempelajari sejarah hidup Raja Daud dan meneladani pola hidupnya yang berkenan kepada Tuhan. Yosia mengalami pembaharuan diri secara rohani dengan menyembah dan taat pada Allah, seperti Daud. Seorang pemimpin rohani harus mulai dengan pembaharuan diri secara rohani terlebih dulu, sebelum dia dapat memimpin orang lain kepada Tuhan. Inilah yang harus pertama kali para pemimpin lakukan!
Kedua, pembersihan lingkungan. Yosia membersihkan lingkungannya dari dosa penyembahan berhala (ay. 3-7). Yosia menghancurkan semua berhala dan tempat penyembahan berhala; bahkan semua tulang imam-imam yang sesat dihancurkannya. Pembersihan yang Yosia lakukan bukan hanya di wilayah Yehuda saja, melainkan sampai ke wilayah kerajaan utara (Manasye, Efraim, Simeon dan Naftali). Seorang pemimpin yang rohani dapat menjadi garam dan terang terhadap masyarakat sekitarnya. Mari kita melakukannya segera!
STUDI PRIBADI: Bagaimana syarat yang tepat menjadi seorang pemimpin yang berkenan di hadapan Tuhan? Mengapa harus dimulai dengan pembaruan diri dulu?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi para majelis, hamba Tuhan, aktivis atau pekerja gereja agar mereka memiliki pembaruan rohani yang semakin indah di hadapan Tuhan, sehingga pelayanan mereka menjadi berkat dan memuliakan Tuhan.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index