Ayat Bacaan: Kisah Para Rasul 5:26-33
“Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” (Kisah Para Rasul 5:29)
Berdoa di Tembok Ratapan Yerusalem yang dikenal sebagai Tembok Barat Yerusalem, sudah menjadi kebiasaan dan tradisi orang Yahudi selama berabad-abad. Alasan mereka berdoa di tembok ini adalah karena mereka percaya dengan mendekati tembok itu, seperti mendekati Ruang Maha Kudus dalam bait Allah yang lama, di mana mereka dapat merasakan kehadiran Tuhan. Meski tembok itu berada di luar Bait Allah terakhir, tetapi tempat itu termasuk lokasi paling suci bagi kaum Yahudi. Karena itu, orang Yahudi datang dari berbagai tempat di seluruh penjuru dunia ke tempat itu; beberapa di antaranya menuliskan doa-doanya dan menyelipkannya di antara lubang tembok.
Seringkali manusia berlomba-lomba dalam kegiatan rohani, tapi gagal mengerti arti hidup sebenarnya; padahal “Hidup Bukan Sekadar Agama.” Apa perbedaan orang yang menjalankan agama dalam hidupnya dengan orang yang melihat hidup itu bukanlah sekadar agama? Dalam Kisah Para Rasul 5:26-33, Imam besar yang disebut di sini mungkinlah Hanas, bukan Kayafas (Kis. 4:6). Mereka menyebloskan para rasul ke penjara. Mengapa? Karena orang Yahudi percaya bahwa Yesus yang disalib, dikutuk oleh Allah (Ul. 21:22-23; Gal. 3:13). Mereka menangkap para rasul dengan 3 alasan: Pertama, para rasul tidak taat pada peraturan otoritas (ay. 28a). Kedua, para rasul sudah menyebarkan ajaran sesat pada orang (ay. 28b). Ketiga, para rasul telah membahayakan otoritas (ay. 28c).
Orang yang menjalankan agama dalam hidup, cenderung memikirkan diri sendiri (5:17, 28). Salah satunya adalah iri hati dan tumbuh kebencian yang mendalam (ay. 33). Akar iri hati ialah tidak bisa mengasihi (1Kor. 13:4) dan tidak beriman, merasa dirinya benar dan buta secara rohani (ay. 28). Sedangkan orang yang melihat hidup bukan sekadar agama, melihat hidup adalah anugerah Tuhan (ay. 32). Tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan nama Tuhan; menempatkan Kristus sebagai pusat utama dalam hidup kita (ay. 29); berani bersaksi (ay. 20, 25), dan berkorban bagi Kristus. Marilah kita melakukan semuanya itu di hadapan Tuhan!
STUDI PRIBADI: Mengapa seseorang dapat terjebak dalam “keagamaan yang semu”? Untuk siapakah kita hidup, diri sendirikah atau Tuhan?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi jemaat Tuhan agar dapat setiap kita selalu melihat kemuliaan Tuhan dalam kehidupan kita sehingga Kristus benar-benar menjadi pusat dalam kehidupan jemaat Tuhan.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index