Ayat Bacaan: Keluaran 20:16, Ulangan 5:20
“Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” (Keluaran 20:16)
Perintah Allah ke-9, “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” dapat kita baca dalam Keluaran 20:16 dan Ulangan 5:20. Namun, jika kita menelitinya, kita akan menemukan bahwa walupun dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia (LAI) mencatat kedua ayat tersebut sama persis, tapi tidak demikian dalam naskah aslinya. Dalam Keluaraan 20:16, kata “saksi dusta” memakai kata Ibrani “syeker,” yang artinya: “mengucapkan kebohongan, tipuan, ketidakbenaran.” Sedangkan dalam Ulangan 5:20, kata “saksi dusta” memakai kata Ibrani “syaw,” yang memiliki arti, “mengucapkan kata-kata yang sia-sia, kosong, tak bermakna, membual atau sembrono.”
Perintah ke-9 ini berlatar belakang “dunia pengadilan” yang memiliki suasana sangat serius, di mana hidup atau masa depan seseorang sedang dipertaruhkan. Contohnya kasus Nabot, di mana pada waktu ia menolak menyerahkan kebun anggurnya kepada raja Ahab; maka Izebel, isteri raja Ahab, mengajukan dua orang saksi palsu untuk menuduhnya. Kedua saksi itu berkata, “Nabot telah mengutuk Allah dan raja” (1Raj. 21:13). Karena kesaksian palsu tersebut, Nabot dibawa ke luar kota, dan dilempari batu sampai mati. Mengingat begitu seriusnya peran para saksi, kita mengerti, mengapa Allah memandang sangat penting perintah ke-9 ini. Kesaksian dusta, apabila kita biarkan, akan menjadi “bencana” bagi seluruh proses mencari keadilan.
Kitab Amsal mengingatkan bahwa saksi-saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan akan binasa” (Ams. 19:9; 21:28). Enam perkara dibenci Tuhan, bahkan, tujuh perkara menjadi kekejian hati-Nya, “mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan, dan yang menimbulkan pertengkaran” (6:16-19). Alkitab mencatat, karena dustanya tentang Nabot, maka Izebel binasa dengan cara yang mengerikan.
STUDI PRIBADI: Bolehkah kita mengeluarkan kata-kata bohong hanya untuk bergurau? Apa alasannya? Coba sekali lagi perhatikan perintah ke-9 ini? Apa yang dilarang?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah kepada Tuhan dan mintalah pertolongan dari-Nya agar kita dapat menjaga kata-kata kita, sehingga kita tidak menjadi saksi dusta atas sesama kita, terlebih saudara seiman kita.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index