Martin Luther pernah berkata, “Iman, seperti terang, harus selalu sederhana dan lurus; sedangkan kasih, seperti kehangatan, harus memancar ke segala arah, dan menekuk ke segala kebutuhan saudara-saudara kita.” Apa yang hendak disampaikannya kepada kita?
Pertama, pentingnya iman. Bagian Alkitab yang sangat mempengaruhi teologi dan kehidupannya adalah Roma 1:16-17. Melalui ayat tersebut, Luther mengalami pembaharuan, seperti orang yang baru lahir kembali; sehingga, kerinduannya untuk mengenal dan membagikan kebenaran Tuhan membakar hatinya. Itulah sebabnya, reformasi gereja terjadi. Iman, dan hanya melalui iman kepada Yesus Kristus saja, kita dapat mengenal kasih karunia dan kebenaran yang Tuhan berikan kepada kita.
Iman itu harus sederhana, artinya murni dan tidak dicampurbaurkan dengan hal-hal yang bertentangan dengan esensi iman itu sendiri; atau iman tidak boleh dikompromikan dengan hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan. Karena itu, iman dipandang sebagai “terang,” yang menerangi setiap langkah kita, apabila iman itu murni sesuai perintah Tuhan.
Kedua, pentingnya kasih. Kasih yang murni tidak mudah untuk diusahakan, sebab membutuhkan keberanian dan konsistensi untuk menolak hal-hal yang tidak sesuai dengannya; atau mengintrospeksi diri agar tetap dalam koridor kebenaran firman Tuhan. Sekalipun usaha ini menimbulkan polemik dan pertentangan, kita tetap dipanggil untuk menyatakan kasih; sebagaimana Allah telah mengasihi kita. Dengan kasih, kita tidak pernah bosan menasihati dan menolong mereka yang tersesat. Dengan kasih, kita tetap berdialog dan memiliki relasi yang baik dengan mereka yang berbeda, tanpa mengorbankan kebenaran iman yang kita miliki. Dengan kasih, kita tetap menolong dan membantu mereka yang lemah, tanpa memperhatikan latar belakang mereka. Iman dan kasih harus berpadu, bagaikan dua sisi mata uang yang tidak mungkin bisa dipisahkan. Sebab jika iman ditegakkan, tetapi kasih diabaikan, akan terjadi permusuhan yang tidak ada putusnya. Sebaliknya, jika kasih ditegakkan, tapi iman dikompromikan, maka kita akan kehilangan arah yang jelas. Iman dan kasih harus mewarnai kehidupan kita sebagai umat Tuhan di muka bumi ini.
William Barclay pernah berkata: “Betapapun ortodoksnya sebuah gereja, betapapun kuatnya ajaran yang diberikannya, dan betapapun megahnya tata ibadah yang dibuatnya, tetapi jika gereja itu tidak memiliki kasih, maka gereja itu tidak layak disebut Gereja Kristen sejati.” Dengan kata lain, perpaduan iman dan kasih harus berimbang. Berapa persen perpaduannya? Tentu bukan 50% banding 50%, tetapi 100% banding 100% (murni).