Oleh: Ev. Liem Sien Liong
Dalam tulisannya yang berjudul “Not the Way It’s Supposed to Be,”
(1) Cornelius Platinga, Jr. memaparkan bahwa dosa telah mengakibatkan kerusakan seluruh tatanan dunia. Manusia telah menjadi perusak, baik bagi diri sendiri, sesama, lingkungan, bahkan memusuhi Allah. Karena itu kita sering melihat bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak berjalan seperti yang seharusnya.
Munculnya banjir lumpur Lapindo dan kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan maupun Sumatera pada tahun 2006 ini merupakan sekian kasus di antara beribu-ribu kasus ekologi yang “seharusnya tidak terjadi.” Kerusuhan di Poso, maraknya kasus korupsi, kejahatan moral, pertikaian antar suku, pelecehan seksual, dan persoalan lain yang terjadi di bangsa ini tentu membuat kita bertanya-tanya, mengapa semua ini terjadi?
Interpretasi masyarakat terhadap peristiwa tersebut tentu saja bermacam-macam. Namun satu realita yang tidak pernah diperhatikan secara serius pada masa kini adalah kenyataan bahwa dosa bukan lagi menjadi isu yang penting dan perlu diperhatikan. Platinga mengatakan bahwa perubahan peradaban zaman pada saat ini telah membuat masyarakat tidak memandang dosa secara serius. Mereka tidak lagi menjadi takut terhadap dosa.
(2) Akibatnya, mereka seringkali berbuat dosa, tetapi tidak menyadari bahwa hal itu adalah dosa.
Hilangnya kesadaran masyarakat (termasuk umat Tuhan) tentang dosa telah berimplikasi buruk terhadap tatanan sosial di sekitar kita. Karena itu, dalam memperingati Natal di tahun 2006 ini sebagai umat Tuhan kita seharusnya tergugah untuk kembali mengangkat tema tentang keseriusan dosa dan akibatnya, sehingga kita dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap dunia sekitar kita.
Jika kita kembali merenungkan kisah Natal, maka esensi Natal bukan terletak pada peristiwa kelahiran Sang Firman (Allah) di kandang domba, tetapi pada realita mengapa Sang Firman menjadi Manusia (cur Deus homo)? Karena itu, melalui tulisan ini, penulis akan memaparkan wacana teologis Natal berdasarkan Injil Yohanes 1:14. Adapun teks ini dipilih karena di dalamnya mengandung nilai dan pengertian yang penting bagi iman Kristen.
(3)
STUDI YOHANES 1:14
Seorang rasul yang sangat peduli terhadap kondisi masyarakat dan dunia di sekitarnya adalah Yohanes. Ia mengamati bahwa dunia pada zamannya berada dalam kegelapan (Yoh. 1:5).
(4) Kegelapan membuat mereka hidup di luar kebenaran Allah. Mereka menyembah berhala, hidup dalam keinginan daging, keangkuhan hidup dan hidup dalam pola duniawi (1Yoh. 2:15-17).
Melihat kondisi sosial-religius yang sedemikian gelap, Yohanes berusaha memberitakan tentang Yesus Kristus kepada mereka. Namun ia harus memberitakan-Nya dengan pola dan perspektif yang dapat dimengerti oleh mereka. Karena itu, konsep Logos yang telah berakar kuat di dalam masyarakat sezamannya menjadi perhatian tersendiri baginya.
Yohanes tidak mengawali Injilnya dengan berita tentang kelahiran Yesus Kristus seperti yang dilakukan oleh Matius dan Lukas dalam Injilnya (Mat. 1:18-25, Luk. 2:1-20). Meskipun demikian, pendahuluan Injil Yohanes menggemakan berita tersebut. Ia tampaknya menyadari, apabila ia mengulang berita yang sama seperti yang telah ditulis oleh Matius maupun Lukas, maka masyarakat tidak akan mengerti dengan jelas siapa Yesus Kristus sebenarnya. Itulah sebabnya tujuan utama Injil Yohanes adalah untuk menegaskan secara gamblang bahwa Yesus adalah Sang Logos, Sang Mesias, Anak Allah, yang telah menjadi manusia, sehingga setiap orang yang membaca injilnya dapat mengerti dan percaya kepada-Nya bahwa Ialah satu-satunya jalan untuk kelepasan dari dosa (kegelapan) dan memperoleh hidup yang kekal (Yoh. 20:30-31).
(5)
Analisa Historis
Namun sejak munculnya kritik sejarah,
(6) sejumlah sarjana teologi meragukan kesejarahan Injil Yohanes yang berisi catatan tentang pribadi dan karya Yesus Kristus. Misalnya, Schleiermacher dalam tulisannya Leben Jesu memisahkan antara Yesus sejarah dan Kristus iman. Namun demikian kritik yang keras terhadap berita Injil ini diungkapkan oleh D.F. Strauss (1801-1874). Ia secara terus terang menolak gagasan tentang Allah yang berintervensi dalam sejarah manusia.
(7) Sikap skeptis [tepatnya sikap tidak percaya kepada hal-hal yang supranatural] ini mendorong munculnya keraguan terhadap pra-eksistensi Yesus Kristus.
Pertanyaan yang muncul adalah, apakah pernyataan Yohanes, “Firman (Logos) itu telah menjadi manusia,” adalah realita sejarah yang telah terjadi lebih dari 2000 tahun yang lalu? Bagi mereka yang menolak peristiwa supranatural akan beranggapan bahwa kesaksian Yohanes tentang pra-eksistensi Yesus Kristus adalah sebuah ilusi (mitos) dan karangan para murid. Itulah sebabnya, Natal bagi mereka hanya mengingat kembali peristiwa kelahiran seorang manusia biasa bernama Yesus yang sama seperti manusia umumnya.
Bagaimana dengan kita? Apakah pernyataan Yohanes, “Firman (Logos) itu telah menjadi manusia” cukup meyakinkan kita bahwa Yesus bukan sekadar manusia biasa? Apakah pernyataan Yohanes tersebut memiliki bukti historis yang dapat dipercaya?
Joel B. Green dalam tulisannya, Memahami Injil-Injil dan Kisah Para Rasul, menjelaskan bahwa meskipun Injil Yohanes ditulis dengan gaya dan perspektif yang berbeda dari Injil sinoptik, namun tujuan dan isinya memiliki hubungan yang erat dengannya, sehingga kita tidak dapat memisahkan atau memperbandingkan kualitasnya.
(8) Dengan kata lain, meskipun Yohanes menjelaskan kelahiran Yesus dari perspektif yang berbeda dan berasal dari data yang independen [yaitu tidak bergantung pada injil sinoptik],
(9) namun keduanya memiliki pikiran yang sama, yaitu menjelaskan siapa Yesus yang bersejarah itu.
(10)
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka penulis memberikan beberapa penjelasan bahwa perkataan Yohanes, “Firman (Logos) itu telah menjadi manusia” adalah suatu realita Natal yang bersejarah dan membuktikan bahwa Yesus Adalah Allah yang berinkarnasi.
Pertama, pengakuan Yohanes tersebut memiliki paralelisme dengan berita kelahiran yang ditulis oleh Matius maupun Lukas (Mat. 1:18-25, Luk. 2:1-20).
(11) Artinya, meskipun Yohanes tidak menjelaskan peristiwa Natal secara kronologis seperti Matius dan Lukas, namun apa yang di sampaikan oleh mereka telah disampaikan oleh Yohanes dengan terus terang dalam Injilnya, yaitu “Firman (Logos) itu telah menjadi manusia.”
(12) Dengan kata lain, Yohanes 1:14 memiliki kesejajaran dengan Matius 1:18-25 dan Lukas 2:1-20.
Kedua, realita Natal yang bersejarah itu, yakni “Firman (Logos) itu telah menjadi manusia dan masuk ke dalam sejarah manusia” disaksikan oleh Yohanes sendiri sebagai saksi mata-Nya (Yoh. 21:24; 1Yoh. 1:1-4). Di sini saksi mata memiliki peranan yang sangat penting bagi kesejarahan Natal.
(13) Artinya, keakuratan Yohanes sebagai saksi mata tentang peristiwa, tempat, dan waktu pelayanan Yesus membuktikan bahwa kesejarahan Injil Yohanes dapat dipercaya, termasuk berita tentang inkarnasi Logos.
C.H. Dodd dalam tulisannya, Historical Tradition in the Fourth Gospel, memberikan pembelaan bahwa sumber historis Injil Yohanes berasal dari bahan-bahan yang sangat berharga dan memiliki nilai sejarah yang tidak berasal dari Injil sinoptik. Ini bukan saja mendukung kesaksian internal Injil Yohanes, tetapi juga memberikan ruang verifikasi dengan berbagai bukti eksternal berupa letak geografis, detail-detail sejarah, dan kondisi sosial pada waktu itu.
(14) Jadi, meskipun Yohanes mencatat Natal dengan gaya penulisan yang berbeda dari Matius dan Lukas, namun pernyataannya tentang Firman itu telah menjadi manusia sungguh-sungguh peristiwa bersejarah.
Ketiga, Yohanes 1:14 merupakan apologia yang ditujukan kepada kelompok doketis Kristen yang tidak mempercayai bahwa Firman [Logos] telah menjadi manusia sesungguhnya.
(15) Apologia ini menjelaskan bahwa benar atau tidaknya pernyataan Yohanes tersebut dapat diverifikasi dengan pandangan gnostik tersebut. Jika pernyataan Yohanes bukan suatu fakta sejarah dan hanya sebuah ilusi atau parabolik, maka pernyataan tersebut dapat dipatahkan oleh kelompok doketis yang menolak Logos dapat menjadi manusia sesungguhnya.
(16)
Dari beberapa penjelasan di atas dapat dikonklusikan bahwa Natal menurut Yohanes adalah suatu peristiwa sejarah di mana “Firman (Logos) itu telah menjadi manusia.”
Analisa Filosofis
Pernyataan Yohanes tentang Natal, yakni “Firman itu telah menjadi manusia” tentu menimbulkan pertanyaan filosofis bagi orang-orang sezamannya yakni: “Apakah Firman (Logos) yang dimaksud oleh Yohanes itu?” Apakah Logos Yohanes sama dengan konsep pemikiran filsafat Yunani?
Jauh sebelum zaman Yohanes, sebenarnya pandangan tentang Logos telah dikenal dan berkembang di kalangan filsuf Yunani. Filsuf Yunani pertama yang menggunakan kata “Logos” adalah Heraklitus (abad 6 SM). Menurutnya, segala sesuatu selalu berubah, bergerak dan tidak ada satupun yang benar-benar ada. Misalnya, ia mengatakan bahwa orang tidak mungkin turun dua kali dalam arus sungai yang sama. Demikian pula suatu materi yang baru akan berubah ketika terkena Api. Oleh karena itu, ia mengkonklusikan dibalik semuanya itu terdapat asas pertama. Ia menyebutnya dengan Api (Fire). Segala sesuatu keluar dari Api dan kembali kepada Api. Api mengubah semua bahan yang baru, tetapi Api tetap Api.
(17)
Meskipun demikian, adakalanya Heraklitus menyebut asas pertama ini dengan istilah Logos atau sesuatu yang transenden, yang mengikat keseluruhan yang ada dan menjadi penghubung antara kosmos, manusia dan yang ilahi (yang ultimat). Demikian pula Logos berkaitan dengan kekuatan pikiran, akal, dan kemampuan bicara manusia; bahkan dianggap sebagai jiwa/akal alam semesta.
(18) Dengan kata lain, Logos menurut Heraklitus adalah suatu prinsip rasional yang mempengaruhi seluruh tatanan alam semesta dan menjadi penghubung antara yang ilahi dengan dunia (materi).
Selain Heraklitus, kaum Stoa (abad 3 SM) memiliki pandangan tentang Logos yang sedikit berbeda, tetapi masih mengikuti pandangan Heraklitus. Menurut kaum Stoa, Logos bekerja secara imanen di dalam segala sesuatu.
(19) Logos bersifat ilahi (divine Logos), tetapi bukan a god. Logos mengontrol dan terpercik di mana-mana (logoi spermatikoi) yang menumbuhkan segala sesuatu yang dapat dilihat manusia. Pikiran manusia diakui sebagai bagian dari Logos (logos endiathetos). Demikian pula kemampuan bicara seseorang diakui sebagai bagian Logos (logos prophorikos).
(20) Dengan kata lain, bagi kaum Stoa, Logos adalah prinsip rasional yang bersifat ilahi yang berada di dalam alam semesta (panteistik). Logos juga berhubungan dengan rasio dan perkataan manusia.
Selain Heraklitus dan kaum Stoa, seorang Yahudi yang menggumuli konsep Logos dan telah mempengaruhi budaya helenisme pada awal masehi adalah Philo dari Aleksandria (tahun 20SM - 54M). Ia merupakan seseorang yang telah menggabungkan antara pemikiran Perjanjian Lama dengan filsafat Yunani. Baginya, Logos (divine Logos) bukanlah suatu Allah (a god itself), tetapi berada di bawah Allah dan melaluinya segala sesuatu dijadikan. Logos tersebut bukan pribadi, tetapi sesuatu (it) yang menjadi perantara antara Allah dengan manusia (ciptaan-Nya).
(21)
Dari pengertian konsep Logos di atas dapat dikonklusikan bahwa sejak Heraklitus sampai Philo, Logos dipandang sebagai sesuatu (it) dan bukan pribadi (personal). Meskipun Logos bersifat ilahi (divine) dan melaluinya segala sesuatu dijadikan, namun Logos bukanlah Allah. Logos berada di bawah Allah (second God). Logos hanya sebagai perantara yang mempertemukan antara Allah dengan manusia. Logos juga ada di semua ciptaan (jiwa alam semesta), dan dalam kaitannya dengan diri manusia, Logos adalah akal/rasio dan perkataan.
Masyarakat pada zaman Yohanes telah memahami Logos sebagai perantara antara Allah dengan manusia atau sebaliknya. Logos atau akal (pengetahuan) dianggap sebagai jalan menuju kehidupan yang sejati. Bahkan untuk memperoleh keselamatan jiwa, maka seseorang harus hidup sesuai dengan prinsip Logos itu.
(22)
Yohanes tampaknya menyadari bahwa pengertian Logos pada zamannya merupakan suatu pencarian manusia tentang yang ilahi, sesuatu (it) yang mempengaruhi tatanan dunia dan manusia. Namun konsep tersebut tidak sesuai dengan pemikirannya. Karena itu Yohanes memunculkan pengertian yang baru tentang Logos.
(23)
Untuk mengetahui lebih konkret pandangan Yohanes tentang Logos, kita perlu menganalisa tulisannya.
Analisa Arti Teks
Yohanes menggunakan kata “Logos” hanya 4 kali dalam pendahuluan Injilnya; yaitu 3 kali dalam Yohanes 1:1 dan hanya 1 kali pada ay. 14; setelah itu ia tidak memakainya di seluruh Injilnya. Meskipun demikian, penggunakan kata “Logos” pada awal Injilnya (Yoh. 1:1, 14. bdk. 1Yoh. 1:1) mengindikasikan adanya sesuatu yang penting dan perlu diperhatikan oleh pembacanya.
Pertama, Yohanes menegaskan bahwa Logos yang berinkarnasi itu adalah Allah (Yoh. 1:1). Meskipun frase “Firman (Logos) itu telah menjadi manusia” (Yoh. 1:14) memiliki kata penghubung “dan” dalam bahasa aslinya: “kai ho logos sarx egeneto,”
(24) namun frase ini lebih tepat apabila dikaitkan dengan dengan ay. 1.
(25) Kata “Firman” (Logos) dalam ay. 1, yakni: “Pada mulanya adalah Firman (Logos); Firman (Logos) itu bersama-sama dengan Allah dan Firman (Logos) itu adalah Allah,” merupakan penjelasan tentang siapa “Firman” (Logos) di ay. 14.
(26) Dengan kata lain, Sang Firman (Logos) yang telah menjadi manusia itu adalah sama dengan Allah,
(27) bukan Allah kedua (second God) seperti pemikiran filsafat Yunani.
Kedua, kata “menjadi” [egeneto] dalam ay. 14 tidak berarti bahwa Firman [Logos] yang adalah Allah mengubah natur-Nya menjadi manusia dan tidak lagi Allah. Kata “menjadi” dalam ay. 14 ini lebih tepat diartikan “mengambil,”
(28) sehingga ketika Firman itu menjadi manusia, Ia tidak meninggalkan/membuang keAllahan-Nya.
(29)
Ketiga, kata “manusia” [sarx; terj. literal adalah “daging”] dalam ay. 14 tidak berarti sama dengan manusia pada umumnya yang telah jatuh dalam dosa. Kata “sarx” dalam teks ini berbentuk “kualitatif predikatif nominatif,”
(30) yang artinya Firman itu mengambil natur manusia yang tidak berdosa, termasuk di dalamnya tubuh, jiwa dan roh (Yoh. 4:7; 19:28; 6:53; 11:33. bdk. 1Yoh. 4:2-3; 2Yoh. 7]. Dengan kata lain, manusia Yesus adalah manusia seutuhnya, tanpa dosa. Demikian pula kata “sarx” dalam bentuk kualitatif predikatif menekankan kualitas moral kemanusiaan Yesus.
(31)
Jadi Firman (Logos) menurut pemikiran Yohanes adalah pribadi Allah yang telah mengambil natur manusia. Ia adalah Pencipta segala sesuatu yang hadir di tengah-tengah manusia berdosa.
Analisa Teologis
Pernyataan Yohanes tentang “Firman itu telah menjadi manusia” merupakan salah satu pengakuan teologis terpenting dalam sejarah iman Kristen. Pengakuan ini telah menguatkan iman gereja mula-mula tentang Yesus Kristus.
(32) Yohanes tampaknya tidak ingin berhenti pada peristiwa Natal (inkarnasi Logos), sebab esensi Natal yang sesungguhnya terletak pada tujuan Natal, yaitu mengapa Allah menjadi manusia (cur Deus homo)?
Pertama, Yohanes menjelaskan bahwa tujuan Firman itu menjadi manusia supaya kita dapat melihat kemuliaan-Nya yang penuh kasih karunia dan kebenaran (Yoh. 1:14). Manusia telah jatuh di dalam dosa dan mereka terpisah dari Allah. Namun melalui inkarnasi Firman, manusia dapat berjumpa dengan Allah dan dipersatukan dengan-Nya (ay. 12-13, 18). Manusia dapat melihat dan berinteraksi dengan-Nya secara langsung karena “Ia diam [Allah hadir] di antara kita” (ay. 14).
(33)
Kedua, Yohanes menjelaskan bahwa Firman itu telah menjadi manusia agar kita yang berdosa diselamatkan oleh anugerah-Nya melalui iman kepada-Nya (ay. 12-13). Kata “kemuliaan” (Yun. “Doxa”) dalam ay. 14 tidak menjelaskan tentang kemuliaan sorgawi, melainkan sesuatu yang paradoks, yakni kemuliaan yang tampak pada penderitaan-Nya.
(34) Kemuliaan-Nya adalah kemegahan moral di mana Ia merendahkan diri sampai mati di atas kayu salib.
(35) Di dalam kemuliaan itu kita melihat kasih karunia Allah yang menyelamatkan (Yoh. 3:16) dan kebenaran yang menuntun kita pada kehidupan kekal (Yoh. 14:6).
Ketiga, Yohanes menjelaskan bahwa Firman itu telah menjadi manusia, supaya kita yang hidup dalam kegelapan mendapatkan terang hidup di dalam-Nya (Yoh. 1:3). Kita yang dahulu tidak menyadari akan keberdosaan kita, melalui terang itu kita sadar akan dosa-dosa kita. Karena itu, bagi Yohanes tidak ada terang lain yang dapat menerangi kegelapan manusia, kecuali terang yang berasal dari Allah sendiri.
Dari studi Yohanes 1:14 ini kita dapat mengkonklusikan bahwa Natal menjelaskan tentang Allah yang hadir (berinkarnasi) di tengah-tengah keberdosaan manusia. Kehadiran-Nya bukanlah tindakan yang kosong atau tanpa arti. Kehadiran-Nya adalah untuk:
1. Menyatakan bahwa manusia yang telah berdosa hidup dalam kegelapan dan tidak dapat melepaskan dirinya dari hukum dosa, kecuali ia dilahirkan kembali melalui Roh (bdk. 3:5).
2. Menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang berinkarnasi, dan setiap orang yang percaya kepada-Nya akan mengalami kelahiran kembali dan menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12-13).
3. Menyatakan bahwa mereka yang telah dilahirkan kembali tidak hidup di bawah hukum atau kuasa dosa, melainkan hidup sebagai anak-anak Allah (Yoh. 1:12-13). Karena itu, setiap orang yang telah dilahirkan kembali dapat mengalahkan tipu daya dosa (1Yoh. 3:9).
4. Menyatakan bahwa tujuan Allah berinkarnasi adalah untuk menghancurkan perbuatan-perbuatan iblis (1Yoh. 3:8), sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak dikuasai oleh kegelapan, melainkan hidup dalam kebenaran (terang Allah).
5. Menyatakan keteladanan Yesus Kristus bagi umat pilihan-Nya supaya mereka dapat hidup sama seperti diri-Nya, yang walaupun dicobai namun tetap hidup dalam kebenaran (1Yoh. 1:6).
RELEVANSI INKARNASI LOGOS DAN PEMAKNAAN NATAL PADA MASA KINI: SEBUAH PROPOSAL
Berdasarkan Teologi Yohanes tentang Logos, maka Natal bukanlah peristiwa yang hanya diperingati atau dirayakan setiap tahunnya, tetapi harus dihidupi oleh setiap umat Tuhan. Artinya, Natal adalah momentum bagi kita untuk mengaktualisasikan anugerah Allah yang telah mengubah hidup kita, sehingga dunia yang gelap dapat melihat terang-Nya yang ajaib melalui diri kita (bdk. Mat. 5:14-16; 1Ptr. 2:9-10).
Makna Natal dan Diri-Sendiri
Ketika kita memperingati Natal, pertanyaan yang harus diajukan bukanlah “apakah perayaan Natal tersebut telah disajikan dengan baik dan menarik,” melainkan “apakah hidupku sesuai dengan tujuan inkarnasi Firman itu (tujuan Natal).” Artinya, Natal bukan sekadar tontonan teatrikal di atas panggung sebagai pertunjukan, melainkan sesuatu yang perlu dihidupi dalam kehidupan kita.
Adanya korupsi, perusakan ekologi, dan kejahatan moral yang terjadi di tengah-tengah bangsa kita menuntut suara kenabian dan keteladanan hidup kita. Artinya, jika kita menginginkan implikasi Natal terus bergema di tengah-tengah keberdosaan manusia, maka kita harus hidup dalam tujuan Natal tersebut, yaitu menyatakan kebenaran Allah melalui hidup kita.
Di tengah masyarakat yang tidak lagi melihat dosa sebagai sesuatu yang serius, Natal memanggil kita untuk menyatakan bahwa dosa adalah masalah serius dan merusak tatanan kehidupan di sekitar kita. Lalu apa yang perlu kita lakukan? Janganlah kita kompromi terhadap dosa. Kebencian terhadap dosa harus dimulai dari diri kita sendiri sebagai anak-anak Allah dan bukan dimulai dari orang lain. Semangat Natal harus menjadikan kita pribadi yang dipimpin oleh Tuhan dan bertanggung jawab kepada-Nya, bukan dipimpin oleh hawa nafsu, keegoisan dan keserakahan duniawi yang merusak tatanan kehidupan ciptaan-Nya
Makna Natal dan Keluarga
Selain persoalan ekologi dan degradasi moral, perceraian dan perselingkuhan merupakan masalah yang serius di tengah-tengah masyarakat kita. Ironisnya, masyarakat justru melihatnya sebagai prilaku yang wajar. Namun kita sebagai umat Tuhan tidak boleh melihatnya sebagai sesuatu yang wajar. Dosa adalah dosa.
Kita yang telah dipanggil menjadi anak-anak-Nya (Yoh. 1:12-13) diharuskan hidup dalam kebenaran Allah, termasuk keluarga kita (Mat. 19:6). Karena itu, Natal tidak hanya mendorong diri sendiri untuk hidup membenci dosa, tetapi juga mendorong keluarga kita untuk menyatakan kebenaran Allah melalui kesaksian hidupnya. Kesaksian hidup ini dapat dinyatakan melalui hubungan suami-istri yang saling mengasihi; adanya perhatian dan kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya, termasuk kedisiplinan di dalam kebenaran. Dengan cara demikian keluarga kita menyatakan kehendak Allah (pesan Natal) melalui kesaksian hidupnya.
Makna Natal dan Gereja
Selain diri sendiri dan keluarga, Natal juga mendorong kita untuk memikirkan peran gereja di tengah-tengah dunia yang gelap ini. Hal ini merupakan tugas bersama sebagai anggota gereja (kumpulan anak-anak Allah). Karena itu, kita tidak perlu memikirkan apa yang gereja harus berikan kepada saya, melainkan pikirkan apa yang harus saya berikan dan lakukan bagi gereja.
Jika Kristus sebagai Kepala gereja adalah terang bagi dunia, maka gereja sebagai tubuh-Nya harus mengaktualisasikan hal tersebut melalui peran dan fungsinya. Untuk itu, kita sebagai anggota jemaat harus ikut berperan aktif dalam memajukan gereja. Menghidupi Natal berarti kita mendukung peran dan fungsi gereja di tengah-tengah dunia, baik melalui dana, tenaga, dan pikiran.
Makna Natal dan Misi
Terakhir, Natal memanggil kita bukan saja untuk hidup dalam kesucian dan membangun keluarga Allah, tetapi juga untuk memberitakan Injil kerajaan Allah bagi mereka yang berada di dalam kegelapan dosa. Yesus Kristus adalah satu-satunya Juru Selamat dan terang yang mereka butuhkan. Karena itu, hanya melalui berita Injil, mereka yang berada dalam kegelapan dapat menemukan terang-Nya yang ajaib. Namun bagaimana mereka menemukan-Nya? Inilah tugas kita (Rm. 10:14-17). Jadi, Natal menjadi momentum bagi kita untuk berperan aktif dalam memberitakan Injil-Nya.
KESIMPULAN
Dari pemaparan di atas kita dapat mengkonklusikan bahwa inkarnasi Logos (Natal) bukan hanya peristiwa sejarah yang setiap tahun kita peringat dan rayakan dalam bentuk teatrikal, melainkan harus kita hidupi melalui kesaksian pribadi, keluarga, bergereja, dan ikut dalam pemberitaan Injil. Hal ini harus kita kerjakan karena kita hidup di tengah-tengah dunia yang gelap dan penuh dosa. Jangan jadikan Natal sebagai sebuah hiburan atau tontonan, tetapi jadikanlah Natal sebagai tonggak dan pendorong hidup kita untuk menyatakan kebenaran Allah dan memerangi dosa. Natal adalah waktu di mana kita menyatakan kebenaran Allah di tengah-tengah ketidakbenaran manusia. •
Footnotes
01/ Tulisan ini telah diterjemahkan oleh penerbit Momentum dengan judul, Tidak Seperti Maksud Semula (Surabaya: Momentum, 2004).
02/ Ibid. xvi-xvii.
03/ J.I. Packer, Tuntunan Praktis untuk Mengenal Allah (Yogyakarta: ANDI, 2002) 52-53.
04/ Kata “kegelapan” (Yun. Skotia) dipakai oleh Yohanes sebanyak 7 kali dalam Injilnya. Hal ini menjelaskan suatu kondisi manusia yang lebih mencintai hidup dalam dosa daripada kebenaran di dalam Yesus Kristus (William Barclay, Yohanes: Pemahaman Alkitab Setiap Hari [Jakarta: Gunung Mulia, 1988] 79-80).
05/ Secara umum disepakati bahwa Yohanes menulis Injil yang terakhir, dan kemungkinan besar ditulis sebagai suplemen dari Injil yang lain. Yohanes memasukkan percakapan yang besar dan peristiwa-peristiwa dari kehidupan Yesus yang tidak terdapat di Injil yang lain. Namun demikian, pemilihan dan usaha Yohanes yang hati-hati untuk mempresentasikan Yesus dapat mendorong orang beriman kepada-Nya (Paul Enns, “Teologi Yohanes” dalam The Handbook of Theology 1 [Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2003] 160-161).
06/ Sarjana teologi yang pertama kali memunculkan kritik sejarah terhadap Perjanjian Baru adalah J. Samler. Ia membedakan antara firman Allah yang berguna untuk keselamatan dan Kitab Suci yang berisi informasi hanya bagi orang-orang pada zamannya. Sikap ini kemudian diikuti oleh muridnya yang bernama Johann Jakob Griesbach (1745-1821) yang menolak harmonisasi dan memisahkan Injil Yohanes dari Injil sinoptik. Namun puncak dari kritik sejarah adalah munculnya analisa Yesus Sejarah, yang meragukan historisitas kesaksian keempat Injil (David S. Dockery, “New Testament Interpretation: Historical Survey“ dalam Interpreting the New Testament: Essays on Method and Issues [Nashville: Broadman & Holman, 2001] 28-29).
07/ Ibid. 30-31.
08/ (Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab, 2005) 19-34.
09/ B.F. Westcott menjelaskan bahwa hanya 8% dari Injil Yohanes yang berparalel dengan Injil sinoptik, dan 92% isinya merupakan keunikan tersendiri (Lih. Gary M. Burge, “Interpreting the Gospel of John,” dalam Interpreting the New Testament: Essays on Method and Issues, 363).
10/ J.B. Green, Memahami Injil-Injil, 34.
11/ Meskipun sarjana modern tidak mempercayai perkara supranatural, namun mereka tidak dapat menyangkali bahwa Yesus adalah pribadi yang bersejarah. Hanya saja prasuposisi mereka tidak pernah dapat menemukan siapa Yesus sebenarnya. W.M. Ramsay, seorang teolog dan sejarawan yang tidak mengakui nilai kesejarahan kitab Injil, akhirnya harus mengakui dan membelanya ketika ia menemukan bahwa isi Injil Lukas sangat historis. Dengan kata lain, berita Natal dalam kitab Injil adalah berita yang bernilai sejarah.
12/ J.B. Green menjelaskan bahwa meskipun di dalam Injil-Injil sinoptik terkandung secara tersirat ajaran tentang praeksistensi Kristus, namun poin ini dinyatakan secara gamblang oleh Yohanes (Yoh. 1:1, 14) (Memahami Injil-Injil, 97).
13/ Thomas D. Lea, “The Reliability of History in John’s Gospel,” Journal of the Evangelical Theological Society 38/3 [September 1995] 397-399).
14/ (Cambridge: Cambridge University, 1963). D. A. Carson dalam tulisannya cukup optimis bahwa studi tentang nilai kesejarahan Injil Yohanes setelah C.H. Dodd akan mempertimbangkan bukti internal dan eksternal sebagai landasan kesejarahan Injil Yohanes (“Historical Tradition in the Fourth Gospel: After Dodd, what?” dalam Studies of History and Tradition in the Fourth Gospels, seri Gospel Perspective Vol. 2 [ed. R.T. France & David Wenham; Sheffield: JSOT, 1981] 83-145).
15/ Kelompok doketis adalah kelompok yang mengakui bahwa manusia Yesus bersifat penampakan dan bukan sesungguhnya.
16/ Leon Morris menjelaskan bahwa perbedaan yang tajam antara pengakuan Yohanes tentang Kristus dengan kaum gnostik dan para penulis Injil apokrifa merupakan bagian yang tidak boleh dilupakan dalam mempelajari historisitas Kristus dalam injil Yohanes (“Was the Author of the Fourth Gospel an ‘Eyewitness’?” dalam Studies in the Fourth Gospel [Grand Rapids: Eerdmans, 1969] 139-214).
17/ Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1 (Yogyakarta: Kanisius, 1980) 22.
18/ Gordon Clark, The Johannine Logos (Jefferson, MD: The Trinity Foundation, 1972) 15.
19/ TDNT 4:85
20/ D.L. Lukito, “Logos Christology,” Stulos Theological Journal 1/2 (November 1993) 107.
21/ Lih. Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru: Allah, Manusia, Kristus (Jakarta: Gunung Mulia, 2003) 365. Leon Morris, The Gospel According to John (NICNT; Grand Rapids: Eerdmans, 1989) 121.
22/ Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat 22.
23/ H. Ridderbos menjelaskan bahwa Wisdom dalam PL (Ams. 8) yang seringkali dipersonifikasikan sebagai pribadi tidak identik dengan pemikiran Yohanes, karena Wisdom dipersonifikasikan dan diciptakan, sedangkan Logos adalah pribadi yang nyata dan tidak diciptakan. Menurutnya, pemikiran Yohanes tentang Logos berkaitan dengan Kejadian 1:1 (The Gospel According to John [Grand Rapids: Eerdmans, 1987] 30-31).
24/ Beberapa sarjana berpendapat ay. 14 berhubungan dengan ayat sebelumnya. Misalnya, Fredrick L. Godet mengatakan bahwa jika seseorang yang secara jasmani karena iman dapat menjadi anak Allah, itu terjadi karena objeknya adalah Firman yang menjadi manusia” (Commentary on the Gospel of John [terj. Timothy Dwight; New York: Funk & Wagnalls, 1893] 1:267-268). C.K. Barret juga berpendapat bahwa ay. 14 berhubungan dengan ay. 11 (The Gospel According to St. John [Philadelphia: Westminster, 1978] 164).
25/ David J. MacLeod, “The Incarnation of the Word: John 1:14,” Bibliotheca Sacra 161 (January-March 2004) 73. Spiros Zodhiates berpendapat bahwa kata penghubung “kai” lebih tepat berkaitan dengan anak kalimat pertama dalam ay. 1 (Was Christ God? [Grand Rapids: Eerdmans, 1970] 68).
26/ Brooke F. Westcostt menjelaskan meskipun kata “kai“ merupakan suatu kata penghubung, dengan kalimat sebelumnya, namun identitas “Firman” berhubungan dengan ay. 1. Ia adalah Allah dan Ia menjadi manusia, yaitu waktu kekekalan (eternity) dan temporal (time), pribadi Allah dan manusia, direkonsilikan di dalam diri Firman (The Gospel According to St John: The Greek Text with Introduction and Notes [London: John Murray, 1908] 1:19).
27/ Kata “Allah” dalam frase “Firman itu adalah Allah,” tidak menggunakan definite article dan berbentuk predikati nominatif. Karena itu frase tersebut tidak dapat dibalik menjadi “Allah adalah Firman itu.” Ini berarti Firman itu naturnya adalah Allah, dan hal ini menggemakan tentang Trinitas (lih. C.K. Barret, The Gospel According to St. John 156).
28/ Barret mengatakan bahwa kata “egeneto“ tidak berarti “menjadi” dari wujud “A” berubah ke wujud “B,” karena dalam konteks teks tersebut, kata Firman tetap menjadi subyek yang terus dibicarakan (The Gospel According to St. John 165).
29/ Westcott, The Gospel According to John 1:19. C.E.B. Cranfield memberikan ilustrasi yang cukup menarik untuk menjelaskan hal ini. Jika seseorang mengatakan: “Anak itu menjadi dewasa,” hal ini berarti ada perubahan kondisi atau bentuk dari “kecil” menjadi “besar,” dari kanak-kanak menjadi orang dewasa. Dengan kata lain, anak itu tidak lagi tetap anak, melainkan menjadi orang dewasa. Sebaliknya, jika seseorang mengatakan: John menjadi seorang Fisikawan,” maka keberadaan John tidak berubah, tetapi John adalah Fisikawan. Demikian pula dengan arti “menjadi” dalam Yohanes 1:14 (“John 1:14: ‘became,’ “ Expository Time 93 [1982] 215).
30/ Lih. Daniel B. Wallace, Greek Grammar beyond the Basic: An Exegetical Syntax of the New Testament (Grand Rapids: Zondervan, 1996) 264.
31/ Westcott, The Gospel According to St. John 1:21.
32/ Bruce Milne, The Massage of John, the Bible speak Today (Downers Grove: Intervarsity, 1993) 46.
33/ Kata “diam” (Yun. “Skenoo“) memiliki arti yang sama dengan kehadiran Allah di antara umat-Nya (Kel. 25:9).
34/ Morris, The Gospel According to John 93.
35/ C. F. D. Moule, The Epistle to the Colossians and to Philemon, Cambridge Greek Testament Commentary (Cambridge: Cambridge University, 1968) 84.
Kembali ke atas
|
Artikel sebelumnya
|
Artikel selanjutnya
|
Index artikel