Oleh: Ev. Jon Hendri Foh
Kelahiran dari Anak Dara adalah salah satu keyakinan doktrinal dalam iman Kristen yang membahas tentang asal mula keberadaan Yesus Kristus dalam inkarnasi-Nya menjadi manusia. Tuhan Yesus masuk ke dalam dunia ini tidak melalui cara alamiah berupa hubungan biologis antara sepasang pria dan wanita, melainkan dengan cara yang supra-alamiah, di mana Allah dengan kuasa Roh Kudus menaungi perawan Maria sehingga dia mengandung dan melahirkan seorang anak yang diberi
nama Yesus Kristus. Rahim dari perawan Maria yang seharusnya kosong namun terisi ini adalah suatu
mujizat biologis
(biological miracle). Tindakan supra-natural telah mengantarkan Kristus untuk bereksistensi secara jasmani di dalam dunia.
Kisah kelahiran Kristus melalui anak dara Maria adalah fakta sejarah yang berdasarkan kesaksian Alkitab. Matius mencatat bahwa ketika Maria masih menjadi tunangan Yusuf, “ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri” (Mat. 1:18). Reaksi normal dan manusiawi dari Yusuf pada saat mendengar berita kehamilan tunangannya adalah dia ingin menceraikannya. Keinginan Yusuf ini menandakan dengan jelas bahwa kehamilan Maria terjadi bukan karena dirinya. Setelah malaikat Tuhan mengingatkan bahwa kehamilan Maria yang tidak alamiah ini terjadi karena ada intervensi Allah, akhirnya Yusuf mengurungkan niat untuk menceraikan calon istrinya. Jika Matius mencatat respon Yusuf, maka Lukas menceritakan reaksi Maria pada saat mendengar berita dari malaikat Gabriel bahwa dia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki (Luk. 1:30-31). Dalam keterkejutannya, Maria bertanya, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34).
Pertanyaan ini menunjukkan bahwa Maria mengerti dengan jelas tentang hukum alam berkaitan dengan kehamilan. Sama sekali tidak mungkin bagi seorang perawan untuk bisa mengandung dan melahirkan anak. Tetapi apa yang tidak mungkin bagi manusia, bisa menjadi realita yang mungkin karena Allah yang memungkinkannya. Tidak ada yang mustahil bagi Allah yang maha kuasa.
Kelahiran Kristus dari anak dara adalah suatu peristiwa historis yang telah menggenapi nubuat yang Allah sampaikan dalam Perjanjian Lama melalui nabi Yesaya (Yes. 7:14). Allah adalah Tuhan atas sejarah sehingga di dalam karya pemeliharaan-Nya yang sempurna, Dia mampu mewujudkan apa yang telah dijanjikan-Nya ratusan tahun sebelumnya. Seorang perawan melahirkan anak yang disebut Imanuel, ini adalah pertanda anugerah keselamatan yang besar dari Allah yang diberikan kepada umat manusia yang berdosa.
Komunitas orang percaya dari sejak zaman para Bapa Gereja awal
(early Church Fathers) telah menerima realita kelahiran Kristus dari anak dara sebagai bagian dari keyakinan iman yang diikrarkan secara resmi.
(1) Butir ketiga dari Pengakuan Iman Rasuli menyebutkan bahwa Tuhan kita “dikandung daripada Roh Kudus dan lahir dari anak dara Maria.” Pengakuan Iman Rasuli ini adalah pengakuan iman standar dari seantero gereja Tuhan di sepanjang zaman yang berakar pada ajaran para rasul. Dengan demikian, keyakinan akan kelahiran Yesus dari seorang perawan adalah keyakinan yang bersifat universal dari segenap gereja Tuhan yang masih mengikatkan diri pada warisan iman yang sesuai dengan kebenaran dari kesaksian Kitab Suci (kekristenan konservatif).
Mengapa Tuhan Yesus harus dilahirkan dari seorang perawan ketika Dia memulai keberadaan-Nya dalam dunia yang berdosa ini? Apa signifikansi dari keyakinan doktrinal terhadap kelahiran Kristus dari anak dara? Kita percaya bahwa setiap tindakan Allah pasti ada tujuannya. Tidak ada perbuatan Allah yang bersifat
meaningless. Sebab itu, ada makna penting yang bisa dipelajari dari peristiwa
Virgin Birth ini.
Pertama, kelahiran Kristus dari anak dara adalah peristiwa yang bersifat keharusan (necessity) karena menyangkut misi Tuhan Yesus selaku Juruselamat orang berdosa (Mat. 1:23). Menurut teologia Kristen, pada hakekatnya seluruh umat manusia yang pernah, sedang, dan akan hidup dalam dunia ini hanya terbagi dalam dua golongan saja, yaitu mereka yang berada di dalam Adam dan mereka yang berada di dalam Kristus. Adam adalah wakil dari manusia berdosa. Akibat dari kejatuhannya ke dalam dosa, maka kaum keturunannya mengalami keterputusan relasi dan persekutuan dengan Allah yang hidup. Mereka menjadi umat yang terbelenggu oleh kuasa kematian, tersesat dalam rimba keberdosaan. Mereka adalah pribadi-pribadi yang sangat pantas mendapat ganjaran keadilan Allah berupa hukuman terhadap segala perbuatan dosanya. Di antara kaum keturunan Adam dari dahulu sampai sekarang dan hingga ke masa yang akan datang, tidak ada seorang pun yang dapat menjadi sang penyelamat untuk melepaskan sesamanya dari kutukan dosa. Mengapa demikian? Karena Allah melihat “tidak ada yang benar, seorang pun tidak” (Rm. 3:10). Di hadapan Allah, “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3:23).
Adakah kemungkinan bagi kaum keturunan Adam yang berdosa untuk bisa diselamatkan dari hukuman kekal? Bila ada, bagaimana hal itu bisa terjadi? Kalau kemungkinan bagi hadirnya sang penyelamat yang berasal dari garis keturunan Adam secara biologis telah tertutup, maka jika juruselamat memang harus hadir untuk menunaikan tugas maha berat dalam membebaskan umat manusia dari hukuman, tidak bisa tidak dia harus berasal dari luar garis keturunan Adam secara biologis. Hanya ini satu-satunya jalan yang terbuka untuk merealisasikan karya penyelamatan.
Allah adalah pribadi yang sangat beranugerah dan penuh belas kasihan. Melihat kenyataan bahwa tidak ada seorang manusia pun yang layak dan memenuhi syarat untuk dapat menjadi sang penyelamat, maka Dia merelakan Anak Tunggal-Nya sendiri untuk menjadi manusia dalam rangka menyelesaikan karya keselamatan. Allah menjadi manusia dalam diri Kristus Yesus adalah jawaban Allah terhadap kebutuhan manusia akan Juruselamat.
Kelahiran Kristus yang tidak diperantarai oleh proses biologis melalui pertemuan sel sperma dan sel telur, menyatakan bahwa sekalipun Yesus Kristus hadir sebagai satu sosok manusia sejati, namun Dia tidak termasuk ke dalam kategori manusia di dalam Adam. Gordon Lewis dan Bruce Demarest mengatakan,
Jesus’ supernatural birth indicates that he is not one more member of the depraved , condemned, and alienated Adamic race, but the head of a new order composed of those who have become new creatures by God’s grace. (2)
[Kelahiran Yesus yang bersifat melampaui kondisi alamiah menunjukkan bahwa Dia bukanlah salah seorang anggota dari keturunan Adam yang rusak moral, terhukum, dan terasingkan, melainkan adalah kepala dari suatu tatanan baru yang terdiri dari mereka yang telah menjadi ciptaan baru karena anugerah Allah]
Kelahiran dari anak dara Maria menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah wakil kedua dari umat manusia sebagaimana Adam adalah wakil pertama kita. Dengan kata lain, Kristus adalah Adam kedua. Mengapa Adam dan Kristus bisa menjadi wakil umat manusia? Karena dalam diri dua tokoh ini terdapat kesamaan yang merupakan suatu keunikan personal yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya. Keduanya memiliki awal keberadaan yang bersifat supra-alamiah. Adam diciptakan secara langsung oleh Allah dari tidak ada menjadi berada
(ex nihilo). Kristus dilahirkan dari kuasa Roh Kudus, bukan dari hasrat seksual pria dan wanita.
Selain itu, keduanya masuk ke dunia ini dalam keadaan yang tidak berdosa. Adam adalah mahkota ciptaan Allah yang amat baik (Kej. 1:31). Dan sebagai seorang yang dilahirkan dari Roh Allah yang maha kudus, Kristus tidak mewarisi dosa asal dalam diri-Nya (2Kor. 5:21). Tidak ada seorang pun yang mempunyai karakteristik kehidupan seistimewa mereka berdua. Inilah alasannya mengapa Adam dan Kristus terpilih menjadi kepala yang membawahi umat manusia lainnya.
Sebagai pribadi yang lahir ke dalam dunia yang berdosa namun diri-Nya tidak berdosa, maka kehadiran Kristus adalah kehadiran dari manusia baru
(new humanity). Tuhan Yesus adalah manusia baru, satu figur yang tidak tergolong dalam keterikatan dengan Adam menurut garis silsilah secara biologis; karena itu diri-Nya terbebas dari kondisi mengalami konsekuensi sebagai akibat dari keberdosaan Adam. Kristuslah satu-satunya manusia yang pernah hidup dalam dunia ini yang tidak dikuasai oleh kematian sebagai upah dosa. Dialah satu-satunya manusia yang tidak memiliki dosa asal dan tidak pernah berbuat dosa dalam hidup-Nya.
Dengan demikian, hanya Kristuslah satu-satunya manusia yang memenuhi syarat untuk menjadi Juruselamat. Dalam melaksanakan misi-Nya selaku Sang Penyelamat, Tuhan Yesus harus mencicipi sengat kematian. Akan tetapi kematian-Nya di atas salib sekali-kali bukan disebabkan oleh kesalahan-Nya, melainkan karena Dia memberi diri-Nya untuk menggantikan tempat umat manusia yang seharusnya menerima hukuman Allah. Betapa luar biasa kasih dan pengorbanan-Nya bagi kita!
Kedua, kelahiran dari anak dara adalah cara Allah yang penuh hikmat, yang ditentukan bagi Kristus untuk menjalankan fungsinya sebagai pengantara antara Allah yang maha suci dengan manusia berdosa. Tuhan Yesus selaku mediator yang dilahirkan dari Roh Kudus melalui rahim seorang perawan adalah pribadi yang memiliki dua natur. Dia adalah Allah sejati sebab berasal dari Roh Kudus, dan sekaligus manusia sejati sebab berasal dari Maria. Ke-Allah-an-Nya (Godhead) tidak berkurang karena persatuan dengan sifat manusia. Demikian pula kemanusiaan-Nya tidak bertambah (menjadi ilahi) karena perpaduan dengan sifat Allah.
Rasio manusia yang terbatas tidak mungkin dapat menyelami misteri ilahi ini. Kita hanya bisa menerimanya dengan iman. Mengapa Kristus harus bereksistensi dengan dwi-natur? Kedua sifat (ilahi-manusiawi) yang diwarisi melalui kelahiran dari anak dara merupakan keharusan bagi Kristus supaya Dia dapat mengalami dua peristiwa besar, yaitu kematian dan kebangkitan.
Keselamatan dalam iman Kristen bersifat penebusan atau penggantian. Sistem penebusan menegaskan bahwa manusia berdosa sama sekali tidak mungkin dapat menyelamatkan dirinya sampai kapan pun dan dengan upaya apa pun. Penebusan berarti ada pihak kedua yang melakukan penyelamatan terhadap manusia. Karena objek yang ditebus oleh Kristus adalah manusia berdosa, maka Dia harus menanggung hukuman berupa maut sebagai upah dosa (Rm. 6:23). Kematian adalah suatu realita yang bersifat integral dalam diri seorang penebus. Jika Yesus Kristus hanya bernatur sebagai Allah saja, tentu Dia tidak dapat menjadi seorang pengantara karena Allah tidak mungkin mati. Sebab itu, Allah perlu menjadi manusia dalam diri Kristus agar dalam kondisi sebagai manusia, Dia dapat mengalami kematian, Dia dapat menjadi korban yang memikul konsekuensi dosa manusia.
Kematian Kristus di atas salib adalah kematian dari satu pribadi yang bersifat Allah-manusia. Sebab itu, kematian-Nya memiliki nilai substitutif yang bersifat universal melampaui ruang dan waktu, serta tersedia bagi seluruh orang berdosa. Jika Yesus hanya mati sebagai seorang manusia biasa, nilai kematian-Nya sangat terbatas. Penggantian yang dilakukan-Nya cuma efektif untuk satu orang saja. Tidak ada kemungkinan di mana Dia dapat menebus manusia berdosa di segala zaman dan di semua tempat. Nilai penebusan yang tak terbatas hanya ada pada diri Allah yang tidak terbatas, dan ini ada pada Kristus.
Di samping selaku manusia sejati, seorang pengantara juga haruslah Allah sejati. Tuntutan terhadap mediator bukan cuma supaya Dia dapat mengalami kematian untuk menanggung hukuman dosa, melainkan Dia juga harus mampu mengalahkan dosa dan maut melalui kuasa kebangkitan. Siapakah yang dapat menaklukkan kuasa kematian selain diri Allah yang tidak mungkin mati? Puji Tuhan! Kristus yang dilahirkan dari anak dara Maria adalah Allah yang menjadi manusia. Karena itu, kematian Kristus tidak menjadi akhir kehidupan-Nya. Tetapi sebaliknya, Dia telah menghancurkan belenggu maut melalui kematian yang disertai oleh kuasa kebangkitan. Kubur kosong adalah bukti historis bahwa pribadi Kristus bersifat ilahi, bahwa kuasa kehidupan-Nya tidak mungkin dipasung oleh jerat kematian. Dengan kematian dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus Kristus memproklamasikan diri sebagai seorang pengantara yang mampu mendamaikan manusia berdosa dengan Allah yang maha kudus.
Sebagai kesimpulan dari tulisan ini, dapat dikatakan bahwa kelahiran dari anak dara adalah sarana yang dipakai Allah dalam menyediakan keselamatan bagi manusia berdosa. Kristus yang lahir dari seorang perawan adalah pribadi yang unik, yang melalui diri-Nya kasih karunia pengampunan dosa telah tersedia bagi kita. Karena Kristus, maka kita bisa menjadi ciptaan baru yang kembali dapat berelasi dalam persekutuan yang intim dengan Allah maha kudus. “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Rm. 11:33). Kiranya pengakuan Rasul Paulus ini juga menjadi pengakuan kita tatkala kita merenungkan rancangan Allah bagi keselamatan manusia, yang salah satunya adalah kelahiran Kristus dari anak dara. Terpujilah Allah di dalam segala kemuliaan-Nya! •
Footnotes
01/ “The full form in which the creed [Pengakuan Iman Rasuli] now appears stems from about A.D. 700. However, segments of it are found in Christian writings dating as early as the second century. The most important predecessor of the Apostles’ Creed was the Old Roman Creed, which was probably developed during the second half of the second century.” O.G. Oliver, Apostles’ Creed dalam Evangelical Dictionary of Theology, ed. Walter A. Elwell (Grand Rapids: Baker, 1994), h. 72
02/ Gordon R. Lewis & Bruce A. Demarest, Integrative Theology – Vol. 2 (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1996), h. 274.
Kembali ke atas
|
Artikel sebelumnya
|
Artikel selanjutnya
|
Index artikel